Jumat, 17 Februari 2012

Bersin Itu Bukan Hal Sepele

Awalnya aku tak tahu, mengapa aku bisa bersin-bersin dengan seringnya. Setiap kali aku bersin bisa sampain 10 kali bahkan lebih. Hal ini terjadi sudah lama dimulai ketika aku masih di bangku SD. Awalnya mungkin tidak terlalu sering untuk bersin, namun hanya ditunjukkan dengan kesensitifan dan mudah untuk bersin.
Hal ini hanya aku pahami ketika aku dan orangtuaku pergi ke dokter untuk memeriksakan tubuhku. Dokter bilang bahwa aku ini alergi debu dan dingin dan dianjurkan untuk tidak bermain boneka berbulu, tidak menggunakan kasur dan bantal kapuk, tidak berada di tempat yang berdebu dan masih banyak lagi pantangan lainnya.
Pantangan akan tidak memainkan boneka berbulu sudah langsung dilakukan. Tindakan yang pertama dilakukan oleh kedua orangtuaku adalah dengan menyarankan  aku untuk menitipkan semua boneka milikku itu dan merelakannya untuk menjadi milik orang lain. Sedih dan sangat sedih, karena aku harus rela untuk tidak memiliki boneka lagi. Akhirnya aku pun mau membagikannya, kecuali 1 boneka yaitu MIKI. Dialah boneka kesayanganku yang hingga kini masih aku miliki. Semuanya habis dan tinggalah MIKI sendiri yang bisa aku mainkan sesekali.
Hingga kini umurku 19 tahun, aku merasa bahwa intensitas bersinku semakin hari semakin bertambah. Aku bisa bersin hingga 20 kali setiap bersin, lalu hidung akan terasa gatal, mampet dan merah. Tak jarang cairan bening pun akan keluar dari hidung, pusing dan akan tampak seperti menangis karena air mata pun keluar. Kejadian ini makin sering terjadi dan selalu mengganggu ketika belajar dan kuliah. Kadang malu juga karena cairan bening dari hidung kadang tak terasa keluar, hehe takut dibilang jorok oleh orang lain. Temanku juga ada yang bilang “duh ulie… virus”, padahal aku sudah jelaskan bahwa aku ini alergi.
Sampai suatu ketika, aku mulai sering sakit dan terganggu akibat bersin-bersin ini. Aku memberanikan diri untuk ke dokter THT. Hasilnya, aku mengidap Rhinitis Alergi dan harus cek darah. Hasil dari cek darah adalah IgE totalnya adalah 782 yang normalnya 21. Ini menunjukkan tingkat alergi yang aku derita yaitu sudah mencapai alergi tetap/akut.
Aku shock dan sedih, bagaimana dengan pengobatannya? Dan segalanya aku pikirkan, namun aku pun disadarkan oleh kakak sepupuku bahwa ‘nikmatilah semuanya’. Setelah itu aku kembali ke dokter untuk berobat lagi. Dokter bilang bahwa memang harus berobat. Sembuh atau tidak sebenarnya adalah bagian dari ketentuan Allah. Manusia hanya bisa berusaha yang terbaik.
Penyakitku ini sebenarnya tidak akan menyebabkan kematian, namun akan mengurangi kualitas hidup. Oleh karenanya aku dianjurkan untuk menggunakan obat semprot untuk hidungku untuk bulan pertama pengobatan. Ya… tiap pagi aku harus menyemprot hidungku selama satu bulan. Hasilnya? Alhamdulillah selama menggunakan obat semprot, aku jarang bersin.
Setelah itu dokter melakukan tindakan selanjutnya yaitu memberhentikan penggunaan obat semprot. Tapi dokter berpesan bahwa ini akan sulit karena aku harus menghadapi cuaca yang kurang bersahabat. Dingin, angin, debu dan sebagainya membuat pengobatan tahap dua ini begitu sulit. Aku juga sering kambuh dan terpaksa harus minum obat ketika kambuh. Dan aku juga sempat harus pergi ke dokter umum karena demam dan kondisi sempat melemah. Dokter juga memberikan aku gambaran bahwa pada dasarnya Rhinitis alergi ini adalah penyakit turunan dan sulit untuk sembuh bahkan akan terbawa seumur hidup. Aku pun mengingat bahwa hal ini memang dari orangtuaku. Papah juga punya penyakit yang sama, dan menunjukkan gejala yang sama dengan aku. Mamah juga demikian, namun mamah sudah sembuh karena berobat di dokter THT. Hal tersebut berarti bahwa aku mendapatkan gen dari kedua orangtuaku. Aku hanya tinggal berdoa semoga aku tetap semangat.
Pelajaran penting yang aku dapatkan juga dari sebuah artikel bahwa, jangan pernah menyepelekan bersin atau pilek. Hati-hati karena ada bersin atau pilek yang bersifat pathogen. Ya… dulu aku memang menyepelekan sesuatu, ditambah orang-orang di sekitarku juga melakukan hal yang sama, yaitu menyepelekan diriku yang sering bersin-bersin. Aku tak marah, tak juga kecewa akan hal ini. Tapi harus digaris bawahi dan dipertegas bahwa anak-anakku kelak jangan sampai merasakan hal seperti aku ini. Maka, carilah jodoh yang TIDAK RHINITIS ALERGI juga.. hehehehe
So… teman-teman semua jangan sampai menyepelekan kesehatan yah. Tidak ada yang terlambat untuk sembuh dari suatu penyakit, namun alangkah lebih baik jika suatu penyakit diketahui ketika belum parah atau akut, sehingga usaha untuk penyembuhan bisa lebih maksimal. Semangat :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar