Apa yang kamu pikirkan tentang Aslab? Galak? Jutek? Pelit? Jahat? Sombong? Belagu? Oh… tentu semuanya itu salah.
Menjadi Asisten Laboratorium ternyata tak mudah lho. Karirku (ciee) menjadi seorang asisten laboratorium dimulai ketika aku berada di semester 4. Pertama kali dimintai bantuan menjadi aslab untuk mata kuliah Keanekaragaman Tumbuhan I. awalnya terasa begitu sulit karena harus membagi waktu sebaik mungkin. Apalagi ketika harus mengoreksi laporan praktikum. Rasanya itu merupakan pekerjaan yang berat membosankan. Selain itu menjadi aslab itu tidak boleh telat. Harus dating ke laboratorium paling lambat 30 menit sebelum praktikum dimulai. Harus membuka laboratorium, membersihkannya, menyiapkan semua alat-alat yang akan dipakai, serta harus mengembalikan semua kondisi lab ke keadaan semula, bersih dan rapih. Kesemuanya ini tidak mendapatkan imbalan. Semua ini hanya berupa pengabdian tulus kami terhadap program studi dan kesetiaan serta kepedulian terhadap perkembangan kemampuan adik-adik kami. Jangan salah… kami juga harus belajar sebelum praktikum. Otomatis tugas kami pun bertambah selain belajar materi kuliah kami sendiri dan harus belajar mengulang materi praktikum yang dulu pernah kami dapatkan. Tapi semangat dan keyakinan membuat semuanya terasa lancar.
Karir selanjutnya yaitu menjadi asisten laboratorium untuk mata kuliah Keanekaragaman Invertebrata dan Biologi Umum. Keduanya harus aku jalankan bersamaan. Hehe bisa dibayangkan begitu sibuknya ketika harus mengkoreksi laporan adik-adik praktikum KeIn dan BiUm. Hmmm semuanya dilakukan dengan sabar dan dengan enjoy. Tak jarang aku juga harus pulang malam, tak jarang juga tak tidur, demi mengkoreksinya dan harus membagi waktu mengerjakan tugasku sendiri. Belum lagi tuntutan mengajar. Yah… tapi Alhamdulillah semuanya bisa terlewati.
Pengalaman berharga yang pernah dilalui adalah ketika harus menyiapkan soal ujian praktikum. Alhamdulillah untuk mata kuliah KeIn dan BiUm aku memaksimalkan kemampuanku untuk membuat soal tersebut tentunya dengan bantuan kakak-kakak yang lain dan teman-teman. Tapi pada akhirnya akulah yang menuntaskannya. Senang dan puas ketika semua pekerjaan itu selesai. Tapi begitu tahu jawaban dari adik-adik akan soal itu, aku begitu shock dan kecewa. Karena banyak sekali yang nilainya kecil. Inilah yang menjadi kesedihan utama jika menjadi aslab. Semua bantuan, pelayan dan kesetiaan membagikan ilmu namun selalu dibayar dengan nilai kecil dari adik-adik. Ingin marah, ingin geram, resah dan berusaha untuk membantu nilai akhir dengan dongkrak cantik, namun selalu saja ada yang tidak berterima kasih. Kami tak membutuhkan ucapan “terima kasih ka”, yang kami butuhkan hanya sikap santun dan nilai dari kalian yang baik.
Kesabaran akan sangat diuji ketika ada adik-adik yang protes nilai dengan kurang sopan, hei…. Memangnya kami ini babu nilai? Kami juga perlu dihargai. Yah… tapi itulah pelajaran paling berharga. Semua manusia harus saling menghargai dan menghormati terutama kepada yang lebih senior atau lebih tua.
Kisah aneh lainnya dating dari teman-teman yang mungkin mengulang mata kuliah tersebut tapi memberikan sikap seperti tidak butuh akan nilai. Kami berusaha untuk mengingatkan bahwa nilai mereka kecil, maka turutilah peraturan yang ada. Mereka hanya bisa bolos, tidak ikut pretes, tidak mengumpulkan laporan, mana bisa kami beri nilai? Tapi pada akhirnya mereka mengeluh, meminta kebijaksanaan ke dosen, seakan-akan aslab tidak memberinya. Hei… kemana saja kalian selama ini? Hmmm pelajaran paling baik selanjutnya dan tak patut untuk ditiru adalah “jika kita yang merasa peduli dan butuh nilai untuk kita sendiri, maka berusaha dan berjuanglah untuk itu. Jangan pernah menuntut kepada orang lain bahwaa merekalah yang bertanggung jawab atas diri anda sendiri. Diri sendiri adalah tanggung jawab pribadi bukan orang lain”. Hehehe… so semangat untuk terus mengabdi karena saya, kami peduli dan mau membagikan ilmu yang kami dapatkan lebih dulu dari adik-adik :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar