Aku dilahirkan 18 tahun yang lalu pada hari rabu di rumah seorang bidan di kota kuda. Aku terlahir sebagai seorang puteri dari keluarga berencana. Aku mempunyai satu orang kakak laki-laki dan dialah pangerannya.
Sang pengeran lahir dua tahun sebelum aku lahir. Dia adalah pangeran tampan yang terlahir normal hingga suatu kecelakaan pun terjadi. disaat umrnya yang baru satu hari itu, ada anak kecil yang berniat menjenguk mamah dan pangeran itu di rumah. Dia menyukai pangeran dan mungkin berpikir bahwa bayi kecil itu boneka yang menggemaskan. Untuk mengamankan sang pangeran, papahku berniat memindahkannya ke dalam boks bayi agar lebih aman, tapi kecelakaan tidak bisa dihinrai. Ketika anak kecil itu kesal dia memukul. Yang dipukul adalah kepala sang pangeran yang masih hangat, lembut dan lunak. Kejang-kejang pun terjadi, dan sang pangeran dibawa ke RS. Penanganan yang diberikan dokter ternyata salah. Bayi yang sedang kejang-kejang malah disuntik dan dengan obat yang bukan untuk bayi. Hal tersebut mungkin mengurangi efek kejang yang terjadi. namun begibilah hasilnya sekarang.
Sang pangeran tumbuh dengan saraf motorik di kepala yang putus atau terjepit. Sehingga kaki dan tangannya kaku untuk digerakkan. Akibatnya, setiap perpindahan jauh yang dia lakukan harus dengan kursi roda, singgasananya. Dia selalu berselimutkan kesabaran. Dana untungnya kecelakaan itu tak sampai mengenai sistem IQ di otak. Sehingga pengeran bisa bersekolah dan belajar. Namun, cita-cita, harapan dan mimpinya harus terputus karena pada waktu itu sulit sekali menemukan sekolah inklusi yang menerima anak-naka seperi sang pangeran. Dan diputuskanlah bahwa dia harus tumbuh dan belajar terbatas di rumah. Sang pengran selalu menitipkan cita-cita, mimpi serta harapannya padaku. Yaa.. padaku sanag puteri yang terlahir dua tahun setelah ia lahir. Aku tumbuh normal seperti anak lainnya. Dari kecil aku selalu belajar berbagi kepada kakaku, dan mamahku selalu bilanga kalau ”suatu saat kedua orangtuaku pasti akan mentipkan sang pangeran padaku”
Aku bukanlah gadis manja, karena dari kecil aku dididik untuk kuat dan menjadi seorang yang tangguh dalam kondisi apapun. Ada sebongkah batu yang selalu dititipkan padaku oleh papah, mamah dan sang pangeran. Sebongkah batu yang penuh mimpi, cita-cita dan harapan. Sebongkah batu ini harus aku pikul dan aku bawa hingga suatu saat aku bisa meletakkannya dan menjadi pondasi dari istana yang akan kubuat kelak.
Sang pangeran hingga kini selalu mengantarkan do’a dan kasih sayangnya padaku tiada tara. Aku juga begitu menyayanginya. Dan aku berjanji, aku ini kuat. aku belumlah jadi orang, orang yang sesungguhnya mampu menyediakan istana bagi orang-orang terkasihku. Yang sanggu]p aku lakukan saat ini hanyalah memberikan yang terbaik dan kebanggan terhadapa mereka. Kebanggan yang harus aku tebus dengan peluh dan airmata. Setiap perjalanan selalu ada liku dan tanjakan. Aku yakin kepedihan selalu berpasangan dengan kebahagiaan. Semoga ini semua menjadi inspirasi dan motivasi teman-teman dan saudaraku semua. Nothing impossible if we do the best :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar